ketika elit-elit politik telah dijejali oleh pelacur-pelacur materialis-korup,,
yang libido kerakusan mereka telah terangsang oleh uang,,
yang telah menelanjangi kehormatan,,
bercinta dengan kebodohan,,
bercumbu dengan kemunafikan,,
dan bersenggama dengan kedzoliman,,
maka kita di sini,, hari ini,,
mengoarkan pekikan arek-arek jawa timur untuk mengaborsi kejalangan mereka,,
karena kita adalah trombosit keadilan,,
karena kita adalah hormon kebenaran…
Kalimat lantang itu terkoar dari mulut seorang mahasiswa UNAIR yang berdiri di sebuah podium di antara gedung Grahadi dan 700-an massa dalam aksi Aliansi Arek Jawa Timur, 14 Januari 2010 lalu. Massa yang mengusung berbagai panji itu membaur menjadi satu dalam naungan pataka besar berwarna merah-putih. Aksi simpatik tuntut penuntasan skandal Century itu terdiri dari berbagai elemen intra dan ekstra kampus lintas universitas di Surabaya, Malang dan Jombang.
Sebuah realita bahwa bangsa ini sedang mengalami keterpurukan dan terjerembap dalam lubang kenistaan berbagai krisis. Secara temporer, beberapa dari tumpukan masalah itu adalah skandal bank Century dan kriminalisasi KPK, yang berbenang merah kepada hak-hak rakyat dan beresonansi pada masa depan bangsa. Mungkin itulah api yang menyulut reaksi keras mereka hingga merasa wajib untuk turun ke jalan menyuarakan kebenaran. Meski mereka sadar, aksi mereka tidak akan berdampak langsung dan signifikan pada polemik bangsa ini, karena mahasiswa hanyalah puingan kecil bagian dari berbagai entitas pembangun bangsa. Sementara masih banyak organ-organ yang harus mereka bangkitkan, sedangkan tangan mereka juga tidak cukup panjang untuk menjamah hati para elit negeri. Maka mereka mengambil posisi sebagai penggerak dan stimulus. Berpanas-panas ria, berbusana dalam basahan hujan, berteriak dendangkan mimpi-mimpi hingga habiskan keringat dari tubuh, hanya untuk mendesak anasir-anasir elit yang bersangkutan serta menggugah para pengguna jalan dan rakyat yang menjadi saksi yang melihat perjuangan mereka melalui berbagai media. Mereka berdiri tegar dalam sebuah pengharapan agar akumulasi dari desakan-desakan itu bisa membersihkan kotoran-kotoran di telinga para aristokrat dan membangunkan para jelata yang lama tertidur pulas. Semua itu karena secercah harapan mereka yang tak pernah surut sebagaimana panji-panji mereka yang tak luntur diguyur hujan dan warna merah pada sang saka yang mereka kibarkan tidak pudar didera terik mentari.
Mahasiswa adalah sosok yang tidak hanya mewakili sisi kepemudaan –yang mencakup keberanian, ketangkasan dan semangat juang–, tapi juga intelektualitas. Mahasiswa dengan intelektualitasnya tentu memiliki potensi dan kapabilitas sebagai pengemban perubahan, sebagaimana kejayaan Indonesia yang tidak hanya tertoreh oleh merahnya darah para mujahid kemerdekaan, tapi juga hitamnya pena para intelektual. Dari masa ke masa, pemuda memang berperan sebagai turbin penggerak persada Indonesia dan selalu menjadi garda depan dalam setiap perubahan. Mereka adalah infanteri rakyat yang berbelati keberanian, bertameng ketangguhan, bersenapan kesolidan dengan peluru kebenaran. Dahulu, dengan semangat juang merekah, barisan pemuda mampu mengembalikan kesucian tanah air dari noktah penjajahan fisik para kolonialis.
Tapi sekarang bukan saatnya lagi mengenang masa lalu, bukan masanya lagi mendongeng tentang idealitas. Kini saatnya kita bicara tentang realitas era iniby....bp fsldk sumbagsel
sumber: ukmki nuruzzaman universitas air langga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar